June 18, 2017

SM-3T itu apa sih?


Salam MBMI (Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia).

Yak, kali ini gue mau bacotin tentang SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Sekalian ngrespon koar-koar beberapa rekan gue yang nyuruh bacotin soal lembaran hidup gue di pelosok, dan juga mungkin sebagai referensi buat calon-calon junior gue SM-3T Angkatan VII yang masih galau mau ikut dan masih berjuang ngyakinin emak-bapak atau babang-dedek tersayang biar bisa merantau jauh ke ujung negeri, wkwk.


Pertama sekali, gue bersyukur banget udah di kasih rejeki ini, Alhamdulillah. Gue juga mau bilang makasih banyak sama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang udah ngasih kesempatan buat gue, sebagai salah satu guru SM-3T Angkatan VI mencicipi hidup di ujung negeri selama hampir satu tahun (Agustus 2017 ini kami bakalan dijemput balik, duh sedih gue). Oh iya, gue mau ngasih tau sedikit, SM-3T ini udah jalan enam angkatan hingga 2016, cuma untuk tahun ini beda payungnya. Angkatan I-V dibawah naungan Kemenristekdikti, sedangkan angkatan VI dikelola oleh Kemendikbud.  Oke, paham? Lanjuuutt.



Disini gue mau berbagi beberapa kisah-kasih(?) gue selama menerobos serangkaian tahapan seleksi pada 2016 lalu. Lo bisa baca-baca postingan gue setelah ini. Oke, sebelumnya gue mau sekilas ngjelasin tentang apa sih SM-3T itu. Jadi, singkatnya (karena lo sendiri juga bisa googling atau langsung aja stalking website nya Kementerian terkait, haha), SM-3T merupakan upaya pemerintah Indonesia (yang kita cintai ini) dalam rangka ‘pemerataan wajah pendidikan Indonesia’ baik di daerah urban maupun pinggiran. Oke, bahasa gue ketinggian? Gini, jadi kan Indonesia kita ini terbentang dari Sabang sampai Merauke, dengan beraneka ragam kendala geografis (daerah terdepan, terluar, tertinggal), sehingga akses pendidikan hingga ke pelosok yang berdinding triplek ya ga bisa disamain dengan yang bisa duduk nyaman di ruangan ber-AC ala ala sekolah ibukota. Padahal, anak Indonesia mah sama haknya mau anak pelosok ataupun ibukota, karena mereka sama-sama bertanah air Indonesia, bertumpah darah Indonesia, mereka itu satu. Jadi, dirancanglah suatu program yang emang dikhususkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan daerah pelosok, salah satunya yaitu SM-3T. Oiya, ada sekitar 3 ribu guru SM-3T per angkatan yang di dinaskan ke daerah, kurang dikit dari 3ribu untuk angkatan gue. Daerah penugasannya tersebar dari ujung ke ujung Indonesia, dan itu ga bisa kita pilih mau dinas dimana, coeg. Udah bikin surat pernyataan bersedia ditempatkan diseluruh wilayah NKRI, tanda tangan, materai 6000, haha. Jadi, kalo lo ngrasa ga siap ditugaskan ke suatu daerah tertentu, gue saranin dua pilihan: (1) Lambaikan bendera putih alias nyerah, karena bukan guru SM-3T namanya kalo engga bermental baja yang pantang mundur atau (2) Perbanyak doa biar ditempatkan di daerah tugas yang lo pengen, haha. Oiya, daerah-daerah sasaran penugasannya juga ga sama loh di tiap LPTK penyelenggara, postingan selanjutnya gue bakalan bahas lebih detail tentang ini. Sip.

Walau istilahnya pemerintah pusat ngirim guru-guru (yang pendidikan dan pelatihannya dari yang namanya kota) untuk mengabdi ke pelosok, nah, bukan berarti di pelosok sana kagak ada gurunya sama sekali atau kualitasnya beneran jeblok, jangan mikir terlalu negatif soal daerah pelosok brooooo. Cuma ya itu tadi yang gue bilang bahwa ada beberapa faktor yang memungkinkan sumber daya manusianya mungkin belum terolah secara maksimal atau emang minim pengajar, jadi dikirimlah SM-3T kesana yang notabene secara perekrutan emang ngincer calon-calon guru profesional yang disaring dari yang ter ter ter baik, dilihat dari kualitas kampus ataupun nilai dan hasil seleksi SM-3T tentunya (katanya sih terbaik dari yang terbaik, katanyaaaaaaa, kan ga boleh nyombongin diri, haha). Tapi juga jangan berharap terlalu muluk sama terobosan-terobosan spektakuler yang dirancang guru SM-3T, mereka pun juga manusia yang ga luput dari dosa, yang sepak terjangnya di tempat tugaspun (sebenarnya) bersifat relatif; seberapa ‘kondusif’ situasi daerah tugas, maka semakin ‘wow’ sepak terjangnya, wkwk. Tapi, guru SM-3T, sesuai komitmen yang terpatri dalam jiwanya, selalu berusaha berkontribusi prima pada anak negeri di pelosok ibu pertiwi. Percayalah. J

Singkatnya kira-kira begitulah. Ah, guru-guru SM-3T diseleksi susah-susah dan diutus ke pelosok bukan cuma buat ngajar doang, gan. Bukan cuma pengabdian ke dunia pendidikan aja (iyalah lo kan guru), tapi juga ke masyarakat (bisa dalam berbagai artian, sumbangsih elu tergantung di desa mana elo tugas yang tentunya ga bisa dipukul sama rata seberapa tsadeeess nya karena ya itu tadi masing-masing orang dapat rejeki tempat yang bervariasi wkwk, soal ini nanti gue bahas lebih lanjut), dan ada laporan-laporan yang mesti lu tikektiketik dan kirim via email ke alamat terkait juga, sesuai periode laporan, haha. Isi laporannya? Adalah, rahasia negara, cukup anak SM-3T, boss besar, dan Tuhan yang tahu. Nah, gimana kalo sinyal ga manusiawi di sana? Ya itu derita lo, laporan tetep harus masuk, mau lu jungkirbalik ngemis sinyal atau panjat pohon, suka suka elu. Istilahnya nih yah, ga ada akar, rotan pun jadi, wkwk. Serius gue ini, coeg. Tapi jangan pula karena itu nyali lo jadi cemen, apa gunanya elo dan rekan-rekan diutus ke rantau kalo bukan juga untuk ngiket tali persaudaraan sesama kalian. Disanalah nanti lo bakal ketemu keluarga baru, keluarga yang ga cuma karena bertalian secara kandung. Anggota keluarga baru yang siap sedia jadi saling jadi tameng, yang ngulurin tangan, bersyukur banget. :) Nah, guna laporan-laporan itu apaaaa? Itulah nanti yang jadi bahan yang konstruktif buat boss besar, karena laporan itu langsung didapat dari orang-orang pilihan yang emang terjun langsung ke daerah. Gitu, coeg!

Yah, walau jujur aja, selama gue ikut seleksi, tetap aja ada yang pro-kontra katanya blablablabala, cuma wajarlah namanya juga dunia. Intinya ya itu, mekanismenya seperti itu. Satu lagi, hampir gue lupa, ada juga yang nanya di akun sosmed gue mengenai siapa aja sih yang bisa ikutan program ini, oke, yang bisa ikut SM-3T cuma yang di ekor namanya ada gelar S. Pd (Sarjana Pendidikan), kan ke pelosok mau jadi guru ya kan dan lagipula ga cuma stuck di SM-3T aja karena abis itu lanjutin lagi ke step yang lebih tinggi dalam rangka membentuk guru profesional. #ciyelahbahasague

Jangan dikira gampang jadi guru, coeg. Kalo lu mikirnya sempit (banget) dan bilang jadi guru cuma modal koar-koar doang, gue saranin lo perbanyak istighfar atau minta ampun sama Tuhan sesuai keyakinan masing-masing. Percuma lo sekolah tinggi-tinggi sampe gelar udah pada melar ngekorin nama lo, kalo pola pikirnya masih cetek kayak gitu. Lo ga bakal tau gimana strong-nya seorang calon guru selama elo cuma ngliat atau ngdenger doang. Jangan berani ngbacot, kalo lo belum pernah coba berdiri langsung dalam kelas, ngadepin sekian kepala siswa yang tiap kepala isinya ga ada yang sama, yang lo bakal makan ujian hidup macem-macem di tiap jenjang pendidikan SD SMP SMA SMK yang berbeda. Lah, jangankan jenjang pendidikan beda, satu tingkatan beda kelas aja, ujian kehidupan lo udah beraneka ragam. Dan, jangan cuma sekali dua kali aja lo masuk kelas, yang katanya lo cuma koar-koar doang, setidaknya satu semester dengan 24 jam pelajaran seminggu. Itu baru soal akademik, belum soal psikologis siswa, belum citra ke masyarakat, dan segala tetek bengek lain yang lo mesti timbang-timbang dengan menyandang sebutan sebagai ‘bapak/ibu guru’. Kalo udah lo jalanin, baru lah berbacot ria mulut lo. Kalo belum? Mending ngemut permen dulu sana.

Kadang gue rada ‘panas’ dengar bacotan-bacotan yang songong dari pihak yang sama sekali ZONK soal itu. Kebetulan banget bisa gue luapin disini, gue bukan maksud nyerang siapa-siapa sama omongan gue barusan, cuma ya intinya alangah baiknya jika kita sama-sama intropeksi diri, harga-menghargai profesi, toleransi, lo gabakal tau kalo belum dijalani, jadinya lo juga ga punya hak untuk caci-maki, daripada bikin sakit mending cari solusi untuk perbaiki situasi yang udah terlanjur terjadi. Gitu aja sih, daripada sok tau padahal gatau. Oke, bos? J

Hm, kayaknya postingan ini cukup sampe disini. Kalo mau tau lebih lanjut tentang SM-3T itu apa, lo bisa kepoin mbah Google atau buka aja website boss besar gue (baca: Kementerian) haha.

No comments:

June 18, 2017

SM-3T itu apa sih?


Salam MBMI (Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia).

Yak, kali ini gue mau bacotin tentang SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Sekalian ngrespon koar-koar beberapa rekan gue yang nyuruh bacotin soal lembaran hidup gue di pelosok, dan juga mungkin sebagai referensi buat calon-calon junior gue SM-3T Angkatan VII yang masih galau mau ikut dan masih berjuang ngyakinin emak-bapak atau babang-dedek tersayang biar bisa merantau jauh ke ujung negeri, wkwk.


Pertama sekali, gue bersyukur banget udah di kasih rejeki ini, Alhamdulillah. Gue juga mau bilang makasih banyak sama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang udah ngasih kesempatan buat gue, sebagai salah satu guru SM-3T Angkatan VI mencicipi hidup di ujung negeri selama hampir satu tahun (Agustus 2017 ini kami bakalan dijemput balik, duh sedih gue). Oh iya, gue mau ngasih tau sedikit, SM-3T ini udah jalan enam angkatan hingga 2016, cuma untuk tahun ini beda payungnya. Angkatan I-V dibawah naungan Kemenristekdikti, sedangkan angkatan VI dikelola oleh Kemendikbud.  Oke, paham? Lanjuuutt.



Disini gue mau berbagi beberapa kisah-kasih(?) gue selama menerobos serangkaian tahapan seleksi pada 2016 lalu. Lo bisa baca-baca postingan gue setelah ini. Oke, sebelumnya gue mau sekilas ngjelasin tentang apa sih SM-3T itu. Jadi, singkatnya (karena lo sendiri juga bisa googling atau langsung aja stalking website nya Kementerian terkait, haha), SM-3T merupakan upaya pemerintah Indonesia (yang kita cintai ini) dalam rangka ‘pemerataan wajah pendidikan Indonesia’ baik di daerah urban maupun pinggiran. Oke, bahasa gue ketinggian? Gini, jadi kan Indonesia kita ini terbentang dari Sabang sampai Merauke, dengan beraneka ragam kendala geografis (daerah terdepan, terluar, tertinggal), sehingga akses pendidikan hingga ke pelosok yang berdinding triplek ya ga bisa disamain dengan yang bisa duduk nyaman di ruangan ber-AC ala ala sekolah ibukota. Padahal, anak Indonesia mah sama haknya mau anak pelosok ataupun ibukota, karena mereka sama-sama bertanah air Indonesia, bertumpah darah Indonesia, mereka itu satu. Jadi, dirancanglah suatu program yang emang dikhususkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan daerah pelosok, salah satunya yaitu SM-3T. Oiya, ada sekitar 3 ribu guru SM-3T per angkatan yang di dinaskan ke daerah, kurang dikit dari 3ribu untuk angkatan gue. Daerah penugasannya tersebar dari ujung ke ujung Indonesia, dan itu ga bisa kita pilih mau dinas dimana, coeg. Udah bikin surat pernyataan bersedia ditempatkan diseluruh wilayah NKRI, tanda tangan, materai 6000, haha. Jadi, kalo lo ngrasa ga siap ditugaskan ke suatu daerah tertentu, gue saranin dua pilihan: (1) Lambaikan bendera putih alias nyerah, karena bukan guru SM-3T namanya kalo engga bermental baja yang pantang mundur atau (2) Perbanyak doa biar ditempatkan di daerah tugas yang lo pengen, haha. Oiya, daerah-daerah sasaran penugasannya juga ga sama loh di tiap LPTK penyelenggara, postingan selanjutnya gue bakalan bahas lebih detail tentang ini. Sip.

Walau istilahnya pemerintah pusat ngirim guru-guru (yang pendidikan dan pelatihannya dari yang namanya kota) untuk mengabdi ke pelosok, nah, bukan berarti di pelosok sana kagak ada gurunya sama sekali atau kualitasnya beneran jeblok, jangan mikir terlalu negatif soal daerah pelosok brooooo. Cuma ya itu tadi yang gue bilang bahwa ada beberapa faktor yang memungkinkan sumber daya manusianya mungkin belum terolah secara maksimal atau emang minim pengajar, jadi dikirimlah SM-3T kesana yang notabene secara perekrutan emang ngincer calon-calon guru profesional yang disaring dari yang ter ter ter baik, dilihat dari kualitas kampus ataupun nilai dan hasil seleksi SM-3T tentunya (katanya sih terbaik dari yang terbaik, katanyaaaaaaa, kan ga boleh nyombongin diri, haha). Tapi juga jangan berharap terlalu muluk sama terobosan-terobosan spektakuler yang dirancang guru SM-3T, mereka pun juga manusia yang ga luput dari dosa, yang sepak terjangnya di tempat tugaspun (sebenarnya) bersifat relatif; seberapa ‘kondusif’ situasi daerah tugas, maka semakin ‘wow’ sepak terjangnya, wkwk. Tapi, guru SM-3T, sesuai komitmen yang terpatri dalam jiwanya, selalu berusaha berkontribusi prima pada anak negeri di pelosok ibu pertiwi. Percayalah. J

Singkatnya kira-kira begitulah. Ah, guru-guru SM-3T diseleksi susah-susah dan diutus ke pelosok bukan cuma buat ngajar doang, gan. Bukan cuma pengabdian ke dunia pendidikan aja (iyalah lo kan guru), tapi juga ke masyarakat (bisa dalam berbagai artian, sumbangsih elu tergantung di desa mana elo tugas yang tentunya ga bisa dipukul sama rata seberapa tsadeeess nya karena ya itu tadi masing-masing orang dapat rejeki tempat yang bervariasi wkwk, soal ini nanti gue bahas lebih lanjut), dan ada laporan-laporan yang mesti lu tikektiketik dan kirim via email ke alamat terkait juga, sesuai periode laporan, haha. Isi laporannya? Adalah, rahasia negara, cukup anak SM-3T, boss besar, dan Tuhan yang tahu. Nah, gimana kalo sinyal ga manusiawi di sana? Ya itu derita lo, laporan tetep harus masuk, mau lu jungkirbalik ngemis sinyal atau panjat pohon, suka suka elu. Istilahnya nih yah, ga ada akar, rotan pun jadi, wkwk. Serius gue ini, coeg. Tapi jangan pula karena itu nyali lo jadi cemen, apa gunanya elo dan rekan-rekan diutus ke rantau kalo bukan juga untuk ngiket tali persaudaraan sesama kalian. Disanalah nanti lo bakal ketemu keluarga baru, keluarga yang ga cuma karena bertalian secara kandung. Anggota keluarga baru yang siap sedia jadi saling jadi tameng, yang ngulurin tangan, bersyukur banget. :) Nah, guna laporan-laporan itu apaaaa? Itulah nanti yang jadi bahan yang konstruktif buat boss besar, karena laporan itu langsung didapat dari orang-orang pilihan yang emang terjun langsung ke daerah. Gitu, coeg!

Yah, walau jujur aja, selama gue ikut seleksi, tetap aja ada yang pro-kontra katanya blablablabala, cuma wajarlah namanya juga dunia. Intinya ya itu, mekanismenya seperti itu. Satu lagi, hampir gue lupa, ada juga yang nanya di akun sosmed gue mengenai siapa aja sih yang bisa ikutan program ini, oke, yang bisa ikut SM-3T cuma yang di ekor namanya ada gelar S. Pd (Sarjana Pendidikan), kan ke pelosok mau jadi guru ya kan dan lagipula ga cuma stuck di SM-3T aja karena abis itu lanjutin lagi ke step yang lebih tinggi dalam rangka membentuk guru profesional. #ciyelahbahasague

Jangan dikira gampang jadi guru, coeg. Kalo lu mikirnya sempit (banget) dan bilang jadi guru cuma modal koar-koar doang, gue saranin lo perbanyak istighfar atau minta ampun sama Tuhan sesuai keyakinan masing-masing. Percuma lo sekolah tinggi-tinggi sampe gelar udah pada melar ngekorin nama lo, kalo pola pikirnya masih cetek kayak gitu. Lo ga bakal tau gimana strong-nya seorang calon guru selama elo cuma ngliat atau ngdenger doang. Jangan berani ngbacot, kalo lo belum pernah coba berdiri langsung dalam kelas, ngadepin sekian kepala siswa yang tiap kepala isinya ga ada yang sama, yang lo bakal makan ujian hidup macem-macem di tiap jenjang pendidikan SD SMP SMA SMK yang berbeda. Lah, jangankan jenjang pendidikan beda, satu tingkatan beda kelas aja, ujian kehidupan lo udah beraneka ragam. Dan, jangan cuma sekali dua kali aja lo masuk kelas, yang katanya lo cuma koar-koar doang, setidaknya satu semester dengan 24 jam pelajaran seminggu. Itu baru soal akademik, belum soal psikologis siswa, belum citra ke masyarakat, dan segala tetek bengek lain yang lo mesti timbang-timbang dengan menyandang sebutan sebagai ‘bapak/ibu guru’. Kalo udah lo jalanin, baru lah berbacot ria mulut lo. Kalo belum? Mending ngemut permen dulu sana.

Kadang gue rada ‘panas’ dengar bacotan-bacotan yang songong dari pihak yang sama sekali ZONK soal itu. Kebetulan banget bisa gue luapin disini, gue bukan maksud nyerang siapa-siapa sama omongan gue barusan, cuma ya intinya alangah baiknya jika kita sama-sama intropeksi diri, harga-menghargai profesi, toleransi, lo gabakal tau kalo belum dijalani, jadinya lo juga ga punya hak untuk caci-maki, daripada bikin sakit mending cari solusi untuk perbaiki situasi yang udah terlanjur terjadi. Gitu aja sih, daripada sok tau padahal gatau. Oke, bos? J

Hm, kayaknya postingan ini cukup sampe disini. Kalo mau tau lebih lanjut tentang SM-3T itu apa, lo bisa kepoin mbah Google atau buka aja website boss besar gue (baca: Kementerian) haha.

No comments:

Visitors

Thanks for visiting!

free counters

Followers

World Visiting