July 19, 2013

:: Bukan hanya Anda, Saya pun takut.


Hari ini, saya membaca salah satu postingan teman saya di blog pribadinya, sepertinya dia belum lama putus dari pacarnya yang kesekian. Saya memang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan seorang kekasih yang tulus disayangi. Saya tidak pernah mencicipi bagaimana rasanya menjalin hubungan dengan seseorang dalam ikatan ‘pacaran’. Tak sedikit yang tak percaya ketika saya menjawab tanya mereka bahwa saya benar-benar belum pernah pacaran selama 20 tahun saya bernapas. Lalu, mereka melontarkan pertanyaan lanjutan, kenapa? Ah, entahlah, sejujurnya saya juga tak terlalu terpikirkan akan hal itu, entah karena belum siap atau apa, saya juga tak tahu, yang jelas, saya cukup menikmati kesendirian saya. Mungkin karena saya sudah terbiasa sendiri, sejak kecil, sehingga itu bukanlah sebuah masalah besar yang akan menyeret saya jatuh. Kemudian, pertanyaan kembali diajukan, apa ada seseorang yang saya sukai? Dan saya menjawab, ada. Ada seseorang yang mengisi relung hati saya, dan tanpa saya sadari, sudah lebih dua tahun berlalu sejak saya menyadari bahwa hati saya sudah dihuni oleh rasa padanya, seseorang yang tak sengaja saya sukai, dan terlambat saya menyadari.

        Ah, entahlah, hingga kini saya masih tak mengerti, mengapa saya masih terjebak dirasa yang sama, pada orang yang sama. Mengapa dan apa yang membuat saya tak bisa berpindah ke hunian yang lain, yang menawarkan kenyamanan, dengan lebih sedikit intensitas air mata, rasa sesak, serta berlimpah bahagia dan lega, saya tak perlu lagi olahraga mata setiap kali melintasi titik-titik yang berpeluang besar akan hadirnya. Entahlah, saya  masih tak mengerti, dan waktu terus berputar tanpa henti, dan saya masih berdiri, disini. Orang-orang bilang, segera lupakan, jangan pedulikan, tapi sekeras dan sesering apapun saya mencoba, pada akhirnya, saya kembali ke titik awal, seolah perjalanan mengenyahkannya adalah sebuah langkah-langkah kecil dengan rute melingkar, sehingga pantaslah saya selalu kembali ke titik asal dimana tapak saya bermula melangkah, dimana saya masih sangat menyukainya. Cukup sering saya berkata akan pergi, akan berhenti, tapi lagi dan lagi saya berulah kembali. Dan ini membuat saya menjadi begitu tak nyaman, untuk diri saya sendiri, untuk dia, serta mereka yang berada disekitar saya serta dia. Jika saya memiliki sembilan buah ‘Dragon Ball’ yang dapat mewujudkan satu permintaan, saya bersedia menukarnya dengan sebuah pinta agar dapat memutar waktu, dimana saya seharusnya menjawab sebaliknya atas pertanyaannya kala itu, mempertanyakan sukakah saya padanya. Seandainya saya sedikit lebih pintar, saya akan berkata ‘Tidak mungkin, bagaimana mungkin aku bisa menyukai pria sepertimu. Kau selalu membuatku kesal, keras kepala, tidak mau mengalah setiap adu bacot denganku, kasar, cuek, moody, emosian, serta sesekali mengecewakanku, dan tak jarang menitikkan air mataku, kau itu benar-benar bukan tipeku. Aku tidak suka padamu, tidak akan.‘  


July 19, 2013

:: Bukan hanya Anda, Saya pun takut.


Hari ini, saya membaca salah satu postingan teman saya di blog pribadinya, sepertinya dia belum lama putus dari pacarnya yang kesekian. Saya memang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan seorang kekasih yang tulus disayangi. Saya tidak pernah mencicipi bagaimana rasanya menjalin hubungan dengan seseorang dalam ikatan ‘pacaran’. Tak sedikit yang tak percaya ketika saya menjawab tanya mereka bahwa saya benar-benar belum pernah pacaran selama 20 tahun saya bernapas. Lalu, mereka melontarkan pertanyaan lanjutan, kenapa? Ah, entahlah, sejujurnya saya juga tak terlalu terpikirkan akan hal itu, entah karena belum siap atau apa, saya juga tak tahu, yang jelas, saya cukup menikmati kesendirian saya. Mungkin karena saya sudah terbiasa sendiri, sejak kecil, sehingga itu bukanlah sebuah masalah besar yang akan menyeret saya jatuh. Kemudian, pertanyaan kembali diajukan, apa ada seseorang yang saya sukai? Dan saya menjawab, ada. Ada seseorang yang mengisi relung hati saya, dan tanpa saya sadari, sudah lebih dua tahun berlalu sejak saya menyadari bahwa hati saya sudah dihuni oleh rasa padanya, seseorang yang tak sengaja saya sukai, dan terlambat saya menyadari.

        Ah, entahlah, hingga kini saya masih tak mengerti, mengapa saya masih terjebak dirasa yang sama, pada orang yang sama. Mengapa dan apa yang membuat saya tak bisa berpindah ke hunian yang lain, yang menawarkan kenyamanan, dengan lebih sedikit intensitas air mata, rasa sesak, serta berlimpah bahagia dan lega, saya tak perlu lagi olahraga mata setiap kali melintasi titik-titik yang berpeluang besar akan hadirnya. Entahlah, saya  masih tak mengerti, dan waktu terus berputar tanpa henti, dan saya masih berdiri, disini. Orang-orang bilang, segera lupakan, jangan pedulikan, tapi sekeras dan sesering apapun saya mencoba, pada akhirnya, saya kembali ke titik awal, seolah perjalanan mengenyahkannya adalah sebuah langkah-langkah kecil dengan rute melingkar, sehingga pantaslah saya selalu kembali ke titik asal dimana tapak saya bermula melangkah, dimana saya masih sangat menyukainya. Cukup sering saya berkata akan pergi, akan berhenti, tapi lagi dan lagi saya berulah kembali. Dan ini membuat saya menjadi begitu tak nyaman, untuk diri saya sendiri, untuk dia, serta mereka yang berada disekitar saya serta dia. Jika saya memiliki sembilan buah ‘Dragon Ball’ yang dapat mewujudkan satu permintaan, saya bersedia menukarnya dengan sebuah pinta agar dapat memutar waktu, dimana saya seharusnya menjawab sebaliknya atas pertanyaannya kala itu, mempertanyakan sukakah saya padanya. Seandainya saya sedikit lebih pintar, saya akan berkata ‘Tidak mungkin, bagaimana mungkin aku bisa menyukai pria sepertimu. Kau selalu membuatku kesal, keras kepala, tidak mau mengalah setiap adu bacot denganku, kasar, cuek, moody, emosian, serta sesekali mengecewakanku, dan tak jarang menitikkan air mataku, kau itu benar-benar bukan tipeku. Aku tidak suka padamu, tidak akan.‘  


Visitors

Thanks for visiting!

free counters

Followers

World Visiting